Rabu, 19 November 2008

EMR Standards

EMR Standards

Though there are few standards for modern day EMR systems as a whole, there are many standards relating to specific aspects of EHRs and EMRs. These include:

  • ASTM International Continuity of Care Record - a patient health summary standard based upon XML, the CCR can be created, read and interpreted by various EHR or EMR systems, allowing easy interoperability between otherwise disparate enities.[21]
  • ANSI X12 (EDI) - A set of transaction protocols used for transmitting virtually any aspect of patient data. Has become popular in the United States for transmitting billing information, because several of the transactions became required by the Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA) for transmitting data to Medicare.
  • CEN - CONTSYS (EN 13940), a system of concepts to support continuity of care.
  • CEN - EHRcom (EN 13606), the European standard for the communication of information from EHR systems.
  • CEN - HISA (EN 12967), a services standard for inter-system communication in a clinical information environment.
  • DICOM - a heavily used standard for representing and communicating radiology images and reporting
  • HL7 - HL7 messages are used for interchange between hospital and physician record systems and between EMR systems and practice management systems; HL7 Clinical Document Architecture (CDA) documents are used to communicate documents such as physician notes and other material.
  • ISO - ISO TC 215 has defined the EHR, and also produced a technical specification ISO 18308 describing the requirements for EHR Architectures.
  • openEHR - next generation public specifications and implementations for EHR systems and communication, based on a complete separation of software and clinical models.

Various factors involving the timing, the right players, market history, utility, and governance play a key role in the overall enrichment of the standard and certification development. The standardization and certification even though seem to bring uniformity in the EMR development, do not guarantee their acceptability and sustainability in the long run. [22] In 2005 the US Federal Government awarded a contract to CCHIT - Certification Commission for Healthcare Information Technology to develop certification criteria for EMR. Starting in early 2007 vendors began to utilize these certification criteria for their EMR systems.

Unified Modeling Language

One important step in development of hospital information system is to model the system with appropriate tool. The right tool is Unified Modeling Language (UML). Here is a short definition of UML :
Unified Modeling Language (UML) is a standardized general-purpose modeling language in the field of software engineering. UML includes a set of graphical notation techniques to create abstract models of specific systems, referred to as UML model.

There are many UML products, one of them can be downloaded from here: http://www.visual-paradigm.com/download/

Selasa, 18 November 2008

Manajemen Proyek - Project Management

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam rangka membangun suatu sistem informasi rumah sakit yang handal adalah adanya dukungan dokumentasi melalui langkah atau proses manajemen proyek (Project Management). Jika anda mempertimbangkan sistim manajemen bisnis yang baru, anda mungkin akan perhatian terhadap waktu yang akan dihabiskan untuk mengimplementasikannya. Banyak sekali cerita cerita horor tentang implementasi yang melebihi anggaran dan tidak memenuhi kebutuhan bisnis mereka.
Metodologi implementasi yang menggunakan metode manajemen proyek yang keras, sehingga anda dapat melihat kemajuan dari proyek anda dalam setiap langkah. Dengan manajemen proyek yang tepat, akan senantiasa memberikan informasi terkini yang lengkap, risiko, anggaran yang telah terpakai, dan kritikal dari sistem metrik lainnya dari implementasi anda yang berlangsung terus-menerus. Dengan demikian dapat mempromosikan kesuksesannya melalui :
  • Transparency – Aktivitas dan jadwal sehingga anda dapat memantau apa yang terjadi dalam implementasi proyek.
  • Information – Komunikasi, laporan, dan pertemuan pertemuan reguler
  • Cooperation – Pengawasan dan pendelegasian tanggung-jawab
  • Setting and meeting requirements – Persetujuan, dokumentasi dan spesifikasi pelanggan

Manajemen proyek meliputi semua tahap, aktivitas dan tugas yang diperlukan melalui siklus implementasi. Tugas-tugas yang kami implementasikan kepada anda meliputi :

  • Planning - Penjadwalan dan prioritas bekerja dengan menggambarkan perencanaan termasuk estimasi dan alokasi dan sumber penghasilan.
  • Risk Management – Analisa dan monitoring resiko untuk mengurangi imbasnya dari keadaan yang tak terduga sebaliknya .
  • Issue Management – Manajemen yang tepatguna dan pengawasan dari setiap masalah proyek.
  • Status Reporting – Koordinasi komunikasi diantara anda, tim proyek, dan para supplier sebagai pihak ketiga.
  • Project Administration - Administrasi proyek yang menggunakan tools proyek manajemen.
  • Project Change Management - Evaluasi, penjadwalan dan pengaturan untuk setiap perubahan order yang muncul.

What is HL7?

Health Level Seven (HL7) is one of several American National Standards Institute (ANSI) -accredited Standards Developing Organizations (SDOs) operating in the healthcare arena. Most SDOs produce standards (sometimes called specifications or protocols) for a particular healthcare domain such as pharmacy, medical devices, imaging or insurance (claims processing) transactions. Health Level Seven’s domain is clinical and administrative data.

Headquartered in Ann Arbor, MI, Health Level Seven is like most of the other SDOs in that it is a not-for-profit volunteer organization. Its members-- providers, vendors, payers, consultants, government groups and others who have an interest in the development and advancement of clinical and administrative standards for healthcare—develop the standards. Like all ANSI-accredited SDOs, Health Level Seven adheres to a strict and well-defined set of operating procedures that ensures consensus, openness and balance of interest. A frequent misconception about Health Level Seven (and presumably about the other SDOs) is that it develops software. In reality, Health Level Seven develops specifications, the most widely used being a messaging standard that enables disparate healthcare applications to exchange keys sets of clinical and administrative data.

Members of Health Level Seven are known collectively as the Working Group, which is organized into technical committees and special interest groups. The technical committees are directly responsible for the content of the Standards. Special interest groups serve as a test bed for exploring new areas that may need coverage in HL7’s published standards. A list of the technical committees and special interest groups as well as their missions, scopes and current leadership is available on this web site.

source : HL7.org

Senin, 17 November 2008

SIMRS - Sistem Informasi Rumah Sakit

Salam.
Di sini kita akan berbicara dan diskusikan tentang sistem yang berjalan di rumah sakit pada umumnya, terutama rumah sakit di Indonesia.
Berikut saya kutipkan artikel dari sebuah blog milik saudara Anjar Priandoyo (priandoyo.wordpress.com)


Sistem informasi rumah sakit terbaik?

Ceritanya begini, suatu hari saya terlibat diskusi dengan seorang teman (sebut saja Jono umur 40-an, menikah 2 anak) yang kebetulan bekerja di Health Science Industry, dalam hal ini Rumah Sakit ternama. Iseng-iseng saya tanya kenapa pakai aplikasi XXX ini? kebetulan RS teman saya ini punya budget yang hampir unlimited untuk membeli tetek bengek keperluan rumah sakit.

“Waktu itu udah beauty contest juga, terus yang paling OK ya aplikasi XXX ini mas”
“Oh gitu, emang market leadernya di SI rumah sakit ini apa pak?”
Rasa ingin tahuku kembali muncul.
“Engg siapa ya…” Jono terdiam sebentar, berpikir.
“Repot ya pak kalau industri spesifik seperti ini, nyari market leadernya aja ga ada” Saya bercanda sekenanya.
“Oh ada pak, NovaSprint, paling bagus itu untuk RS. Kita panggil juga dia di beauty contest, dah overview segala. Tapi punya Novasprint tergolong mahal, jadi kita ga pake dia” Pak Jono kemudian mendongeng sedikit tentang cerita vendor selection di RS-nya
“Saya tahu Novasprint pak, yang singapore punya itu ya? saya dengar memang bagus, leader dia”

Dalam prakteknya dilapangan, masalah vendor selection ini merupakan masalah yang cukup pelik. Beda kalau produk yang dibeli harganya sudah fix, semisal mobil 4WD untuk ditambang. Meskipun dalam skala mass project pun angka mobil 4WD ini masih bisa dibayangkan. Tapi kalau harus Sistem Informasi, kalau harus konsultasi marketing, kalau harus strategic management. Masalah pricing seharusnya berapa ini bisa jadi rumit.

Lha wong jangankan SI kelas gurem, major ERP macem Oracle atau SAP pun berani banting-bantingan harga biar bisa masuk ke satu perusahaan.
“Ya kita berani rugi Njar, biar dapet untung lebih gede belakangan”

Sebenarnya ada satu cara yang paling gampang yaitu menyewa konsultan untuk proses pembelian, vendor selection dkk. Contoh, Pemerintah Amerika menyewa Accenture, untuk menjadi konsultan, biar pemerintah Amerika bisa dapet barang yang kualitasnya bagus. Tapi apa yang terjadi, justru Accenture melakukan penipuan dengan bekerja sama dengan vendor. Jreng-jreng Accenture dituntut $30 juta. Detail ceritanya di tulisannya Aresto. Repot kan, ini untuk dikampung orang, apalagi di Indonesia kan, harusnya hal beginian lebih parah disini. Ga perlu diajarin lah ma Accenture luar.

Nah berkaitan dengan itu, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Bagaimana cara vendor selection yang paling baik, saya jawab:
“…Cari aja forum, asosiasi atau independent yang bisa kasih review dan pricing strategi aplikasi tersebut. Suruh mereka buka harganya berapa. Dalilnya dalam industri yang sama tidak mungkin terjadi gap yang besar…”

Berikut sedikit (sekali) data yang saya miliki tentang peta Sistem Informasi Rumah Sakit. Setahu saya, sebagian besar SI RS didevelop sendiri oleh rumah sakit tersebut. Mungkin ada yang ingin menambahkan?

Buy / Package
1. Novasprint (Successfull client: RS Pondok Indah)
Price: IDR 1.5M, Unlimited user, Hospital Transactional Only

2. Qpro Sukses Mandiri (Best ISV by Microsoft Indonesia)
Price: <>

In house Development
1. RS Pertamina Jaya, Cempaka Putih: Suse, Postgre
Price: IDR?

Ditulis dalam My Work.

22 Tanggapan ke “Sistem informasi rumah sakit terbaik?”

  1. Ranggi Berkata:

    wah mas… utk pembahasan massalah yg ini saya bener-bener ngga ngerti sama istilah-istilah nya… hehehehehe

  2. idrianita Berkata:

    Sepertinya hal ini masalah klasik terjadi dalam pembelian barang IT ya Mas. Mungkin tidak cuman di RS. Sudah mau milih vendor , spec yang dibutuhkan belum jelas. Berhubung budget unlimited semua dibeli…..maunya yang terbagus……tapi menurut siapa, kriterianya apa?, Ini lah awal kejadian resource IT berlebih tapi ga bisa support kegiatan bisnis. Alias pengadaan IT tidak selaras dengan tujuan bisnis he…..he….
    Yang begini bakal jadi proyeknya Mas Anjar….

  3. Tonny - PT.Rent@Soft Berkata:

    Menurut saya, baik buruknya suatu sistem RS, tidak bisa dintinjau melulu dari sisi feature sistem tsb.

    Antara 1 RS dan RS lainnya, berbeda SOP-nya. SIM RS yang baik menurut saya adalah yg paling match dengan SOP rumah sakit bersangkutan.

    Karena saya juga sudah sering dengar baik NOVA maupun QPRO juga ada success story tapi juga ada sad story di-mana2. Jadi gak bisa dipukul rata penilainnya…….

    SAP aja juga blm tentu bisa selalu sukses implementasinya. Dan harga di atas juga tidak bisa dijadikan patokan, karena biasanya yg paling mahal bukan harga softwarenya, tapi implementation cost-nya. Nah, ini yang sering dilupakan.

    Kenapa implementation cost RS di Indonesia tinggi, salah satu penyebabnya menurut saya adalah karena SOP yang tidak standard dan baku.

    Kalo SOP-nya saja bermasalah, gimana bisa punya IT yang bagus. Nah di dalam kasus RS bermasalah SOP tsb, saya yakin NOVA pun bisa fail…………………….

    Terima kasih atas kesempatannya Mas Anjar, good article…………….

  4. defindal Berkata:

    tergantung sapa yang bisa ngasi persenan lebih gede kan ? :D

  5. Tonny Loekito, PT.Rent@Soft Berkata:

    Menurut saya sim-rs terbaik, adalah yg match dengan kebutuhan dan SOP di RS bersangkutan.
    Jadi antara 1 RS dan RS lainnya, bisa berbeda.
    Kalo melulu hanya melihat merk, blm tentu menjamin keberhasilan juga.

    Kalo dari segi features, saya setuju NOVARTIS bagus, tapi kalo dari segi implementasi, saya juga sudah sering mendengar ttg success story maupun sad story ttg software2 ini, termasuk QPRO.

    Kalo dari segi harga, kebanyakan proyek sim-rs di Indonesia, kurang memperhatikan ttg implementation costs. Padahal cost inilah yang biasanya membengkak.

    Harga softwarenya gak seberapa, tapi implementation cost bisa membludak sampe 4/5 x harga softwarenya.
    Jadi sekali lagi harga software gak bisa untuk patokan cost.

    Inti permasalahan adalah karena kebanyakan SOP RS di Indonesia gak baku dan standard. Sehingga implementasinya bisa painfull, karena proses customizing yang rumit.
    Research INDC cukup memberi bukti bahwa implementasi application software –> 70% fail (fail to meet the deadline, etc).

    Ttg hire konsultan untuk pembelian, saya setuju banget. Jadi bisa lebih obyektif, moga2, gak melulu ngeliat amplopnya……….he9x

    Semoga bisa memberi pencerahan.
    For Mas Anjar : good article……………………..

  6. Dr. Andien Berkata:

    Saya dari rumah-sakit swasta yang sudah menggunakan jasa dan produk SIM-RS dari QPRO dan semua berjalan dengan lancar dan dalam tempo kurang dari 6 bulan sistem tersebut sudah running well. Kami salut dengan metoda implementasi yang digunakan oleh QPRO sehingga pihak kami dengan mudah mengikuti proses implementasi tersebut. Dalam pertemuan dengan kolega di rumah sakit malahan ada yang menyebutkan produk QPRO kualitas internasional harga lokal. Bravo untuk QPRO dan tim

  7. Dr. Lastri Berkata:

    Saya salah satu pengembang SIM RS lokal , dan alhamdulillah sudah sukses dipakai di 17 Rumah Sakit di Jabodetabek , menyusul beberapa rumah sakit yang lagi taraf negosiasi . SIM RS tidak dibuat hanya untuk mengcover front office saja ( transaction modul only ) tetapi memuat proses back office ( sampai GL /payroll ) dan terutama report medis yang berbasis patient base (electronic medical record , RL 1-6 , BOR , LOS , dll ) . Setiap RS punya SOP sendiri - sendiri yang rata - rata tidak sama , karena itu saya menyediakan fasilitas customizasi sebelum implementasi disesuaikan dengan proses bisnis masing masing rumah sakit . Fitur - fitur yang ada tidak kalah dengan vendor dari luar , justru kami mendevelopnya disesuaikan dengan iklim bisnis Rumah Sakit di Indonesia . Selain design dalam windows kami juga menyediakan dalam webbase didukung oleh teknologi .NET . Multiuser , Multitarif , Full Integrated System , dan masih banyak fasilitas lain yang tidak Anda dapatkan di SIM RS yang lain . Implementasi biasanya antara 2 sampai 6 bulan tergantung kemampuan rumah sakit . Harga cukup ekonomis dibandingkan vendor diatas , bahkan saya menyediakan sistem KSO untuk klinik atau rumah sakit yang berminat .Saya berharap kedepan , semua pelayanan kesehatan di Indonesia dapat mengakses SIM RS dengan harga terjangkau dan aplicable . Untuk informasi lebih lanjut bisa kontak langsung ke 0813 8001 88 80 ( dr_lastri ).

  8. haryanto Berkata:

    yang namanya jualan pasti yang ditampilkan adalah sukses story dan pasti menutup-nutupi fail storynya, tidak dipungkiri kami dari amandasoft (www.amandasoft.net) juga pernah mengalami kegagalan implementasi (kemoloran waktu) itu karena kita dihadapkan pada SOP rs yang cenderung tidak sama antara satu rs dan rs yang lain seperti yang diungkapkan oleh pak Tonny Loekito, PT.Rent@Soft, tapi kita juga pernah implementasi rs sudah jalan dalam waktu 2 bulan dari Front office sampai backoffice dikarenakan dukungan dari pihak management.
    menurut saya ada beberapa yang menjadi faktor pendukung dari keberhasilan implementasi rs yaitu
    1. tentu softwarenya harus bagus dan modulnya lengkap.
    2. dukungan full dari pihak management.
    3. kecakapan user dalam menggunakan sim rs
    4. penyesuaian sop rs sebelum implementasi.
    5. Dukungan tenaga medis konsultan (terutama dokter) dari vendor pembuat sim rs tersebut.

    apabila kelima aspek itu terpenuhi maka SIM RS akan berjalan dengan baik dan benar, masalah SOP RS diindonesia sebenarnya hampir sama, mungkin hanya beda istilah saja antara satu rs dengan rs yang lain.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

  9. hawking Berkata:

    Ada beberapa aplikasi lain, jika berkeinginan menggunakan web based untuk produk teramedik. kalo nggak salah lihat di http://www.terakorp.com

  10. I Made Arimbawa Berkata:

    Saya adalah salah satu pengembang SIMRS sejak tahun 2003, dan saat ini produk yang kami kembangkan mempunyai brand “Medifirst2000″ dengan 18 modul terintegrasi.

    Saya juga melihat bahwa SOP dari masing2 rumah sakit berbeda2 terutama masalah kebijakan di keuangan. Mungkin untuk masalah rekam medis pasien, mempunyai kemiripan dan biasanya implementasi di bagian ini (rekam medis pasien) bisa cuman 1 minggu. Tapi jika sudah masuk ke bagian keuangan, terutama Billing Pasien, apalagi sampai ke pembagian jasa dan REMUNERASI, itu akan memakan waktu. Yang saya lihat selama ini, disebabkan 3 faktor :
    1. Perlakuan keuangan per rumah sakit mempunyai kebijakan sendiri, apalagi perbedaan antara RS Pemerintah (Baku tapi kadang tak sama untuk akuntansi) dengan RS Swasta pasti berbeda

    2. Faktor SDM ; adalah faktor yang sangat menentukan. Operator dilapangan (entry data) adalah ujung tombak untuk jalannya SIMRS ini. Saya banyak melihat dilapangan karena ada “faktor-faktor tersembunyi” data pasien apalagi pembayaran (validasi) tidak diinput.

    3. Software SIMRS yg baku tidak akan bs masuk, mengcover karakteristik rmah sakit. Jadi harusnya “Tailor Made”, customize sesuai karakteristik RS bersangkutan. Tapi kelemahan “Tailor Made” adalah proses pembuatan yg tidak singkat.

    Kesimpulan terakhir saya :
    Apabila RS pengen implementasi SIMRS, ada baiknya menggunakan sistem berikut :
    1. KSO selama beberapa tahun, sehingga karakteristik RS tersebut tercover dan RS mempunyai kemandirian dengan mengembangkan personel/sdm di SIMRS tersebut. Intinya SIMRS memjadi produktif (software house), apalagi sekarang udah BLU
    2. Jika ada suatu tender, ada baiknya RS menyiapkan Konsultan Perencana terlebih dahulu untuk mengakomodasi selama pengembangan. Klo tidak…bs cuman pasang…beres..bayar…berantakan.

    Sebagai informasi tambahan, saya di PT Jasamedika Saranatama sejak tahun 2003 telah mengcover beberapa RS di JKT dan jawa barat (cianjur/cirebon). Yang terbaru, telah kami implementasikan di RSUD Karawang (kebayang rumsah sakitnya sebesar apa ?)- Sistem KSO 10 thn.
    Kemudian RS Haji Surabaya ( 2006) sistem tender, dan berjalan dengan sangat baik, sekarang masuk masa maintenance. Kemudian RSU Kota Semarang(ketileng) tahun 2006 dengan sistem KSO 5 thn. Terakhir RSU Timika, akhir 2007, dengan sistem tender.

    Melalui forum ini saya juga berharap, sistem IT di rumah sakit menjadi semakin baik yang tentunya akan lebih memuaskan pelayanan pasien.
    Klo ada partner yg bisa sharing dengan saya bs via japri 08170298530 / 022-5436559

    thx

  11. Ferry ZK Berkata:

    weks kenalnya koq sama qpro ma nova duank…

    klo soal features sama sukses history yang paling bagus ya TrakHelath di sini dah implement di RS gropnya Ramsey seperti RSMI, RS Bintaro & RSSI, lom lagi di thailand, brazil, Afsel, Timteng, dll…

    cuma masalahnya ya itu harganya selangit he.. he..

  12. bsans Berkata:

    komitmen yang tinggi dan tetap tinggi adalah modal dasar dari terlaksananya SIMRS-IT secara berkesinambungan. apapun software aplikasinya & seberapa lengkap modul ( jika dapat dikatakan modul ) yang ada didalamnya jika komitmen manajemen & pegawai tetapi tinggi maka SIMRS-IT akan tetap berjalan dengan baik.
    apakah yakin dengan implementasi software aplikasi yang selama beberapa bulan saja dapat dikatakan sebagai suatu prestasi ? emang nya siapa yang menggunakan software tersebut ? pengembang atau pegawai ? pengembang dapat dikatakan berprestasi jika telah membina hubungan yang tidak lagi berdasarkan nilai - nilai di atas kertas. jumlah rumah sakit yang telah terimplementasi bukan suatu ukuran keberhasilan ( kalo pengalaman boleh lah … ).
    bagi rumah sakit yang akan mengembangkan SIMRS-IT, saat ini belum ada standar biaya secara untuk software aplikasi SIMRS-IT, jadi berhati - hati lah…jalan keluarnya saat ini adalah menggunakan standar pembiayaan yang dikeluarkan oleh bapenas ( umumnya pengembang mmooohhh )
    bagi pengembang SIMRS-IT, gunakan lah software aplikasi yang bebas lisensi…karena umumnya menggunakan software bajakan, contoh software yang sering dibajak adalah : Borland Dephi, Visual Basic, Visual .Net, Access, Clipper, Foxpro, dll ( software yang berbasiskan GUI ). jika anda menggunakan software bajakan dalam membuat program aplikasi SIMRS-IT maka anda ikut menjerumuskan orang lain ke dalam jurang ( itu baru software aplikasi nya loh belom lagi OS & Database ) … jadi jangan bangga jika masih menggunakan software bajakan !
    orang yang paling mengerti tentang rumah sakit adalah pegawai rumah sakit itu sendiri … bukan orang lain …

  13. haryanto Berkata:

    memang setiap vendor SIMRS punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Menurut pengamatan saya ada beberapa vendor yang sukses implementasi di rumah sakit tapi hanya bagian front office saja (pendaftaran pasien, rekam medis, r/j,r/i, farmasi dan penunjang medis ) dan sekedar informasi billinglah, tapi begitu menginjak backoffice seperti klaim, hutang, dan gl pada mentok. ini yang saya temui di beberapa rumah sakit. faktornya adalah mereka tidak melibatkan ahli akuntansi dalam implementasi ini, untuk implementasi backoffice programmer atau analyst yang jago koding tdklah cukup untuk melakukannya, harus ada mediator akunting yang pintar dalam melaksanakan implementasi, ini baru bisa berhasil.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

  14. haryanto Berkata:

    saya tambahkan seperti komentar pak bsans, gunakan software lisensi, ada vendor yang jual SIMRS sangat mahal software databasenya masih memakai software bajakan, ini jelas melanggar dan mau untung sendiri, kalau Saya jualan biasanya saya paketin misalnya paket 10 pc sudah termasuk software original baik server maupun klient, dan ini memang menguntungkan kedua belah pihak.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

  15. henri_greenleaft Berkata:

    sya juga termasuk pengembang lokal..meneurut saya pembuatab SIRS bukan cuma SIM RS harus melihat RSnya juga.. saya yakin kebutuhan setiap RS akan berbeda..kebutuhan tersebut tentu akan menentukan bugdet yang akan di keluarkan..terimakasih.

  16. boed Berkata:

    SIMRS terbaik itu tidak bisa dibandingkan.Sama seperti membandingkan mobil balap di sirkuit yang berbeda, cuaca yang berbeda. Mungkin mobil balap A sesuai dengan sirkuit yang sehingga menjadi nomor satu, akan tetapi belum tentu di sirkuit B. Untuk lebih mantap, tanyakan kepada lebih dari satu rumah sakit yang berhasil mengimplementasikan SIMRS, sehingga tidak terpaku pada satu vendor saja. Kumpulkan data - data yang lengkap dari internet atau dari media lain. Cari yang cocok dengan “sirkuit” (baca:rumah sakit) anda. Sehingga anda bisa mencari “setting mesing” yang cocok agak dapat maksimal dipacu di “sirkuit” anda. Sukses selalu

  17. robert Berkata:

    saya seorang pengembang SIM-RS Saya setuju denga Bp. I made. menurut pengalaman saya pembuatan aplikasi SIM-RS harus mengikutsertakan pihak manajemen rumah sakit itu sendiri, bukan sekedar budget yang besar, tanpa adanya kerjasama dan keterbukaan manajemen dengan pihak develop maka SIM-RS yang dibuat akan sia-sia saja. banyak terjadi beberapa rumah sakit mebuat SIM-RS padahal sebelumnya mereka sudah pernah membuat tapi tidak cocok dengan sistem manajemn rumah sakit yg ada.
    jadi menurut saya pembuatan software Rumah sakit tidak harus fdari luar karena dari pengembang lokal pun sudah banyak yg memahami. dan harganya pun dapat terjangkau oleh pihak rumah sakit tinggal bagaimana kesepakan kerjasama antara pihak RS dengan pengembang sistem.

  18. EDWARD HALIMI Berkata:

    Rumah Sakit Kanker Dharmais sudah beberapa kali gagal membangun SIM-RS, sekarang ini sedang mencari calon-calon Vendor yang haldal. Jika anda berminat silahkan ajukan Proposal ke Direksi RS Kanker Dharmais Jakarta, siapa tau anda beruntung…..

  19. M. Yaasiin Fadhilah Berkata:

    Namanya juga marketing, apa lagi marketing freelance yang ga ngerti ttg software SIM-RS, biasanya selalu memberikan angin surga bagi setiap cln pembeli/phk owner Rumah Sakit, padahal ybs sendiri belum tentu sudah koordinasi terelebih dahulu dengan pihak yang mendevolp software tsb. Karena, mereka hanya mengeruk keuntungan berdasarkan fee belaka.

    Artinya terkadang software sebagus apapun, kalo marketingnya tdk profesional, sungguh sangat merepotkan.
    Good luck buat Amanandasoft Mitra Development

  20. sudiono@MEDEEVA Berkata:

    70% sistem rumah sakit yang masih berjalan dengan sistem manual walaupun ada sistem yang sudah diaplikasikan.

    kendala ini terjadi dikarenakan integrasi yang tidak berjalan dan budget yang tidak diperhatikan dengan bijaksana.

    dalam hal ini, diperlukan awareness dari team IT, jajaran Direksi dan Owner. terkait dengan itu adalah sejauh mana kebutuhan sistem tersebut diperlukan.

  21. Kang Paku Berkata:

    baik bagusnya sebua softare SIM-RS akan tergantung pada pemegang regulasi pelaporan kesehatan di indonesia itu sendiri, kadang kala satu sistem berjalan dengan baik di rumah sakit a , tidak menjamin itu akan terjadi pada rumah sakit b, karena SOP yang ada dari tiap2 rumah sakit belum distandarkan yang akhirnya setiap pengadaan sistem informasi yang timbul adalkah mafia mafia tender dengan berbagai cara akhirnya masukal sebuah software tanpa memikirkan dampak yag lebih luas, software dalam negeri pun banyak yang bagus bahkanberjalan di skala rumah kaliber nasionaldan internasional masalahnya koneksitas, dan kekerabatan, saya punya pengelaman di rumah sakit aini jakarta…. masalahnya bisa cair dan bisa bubar oleh seorang pimpinan yayasan .
    salam

  22. dr rusmilah malati Berkata:

    saya pengamat simrs di beberapa rumah sakit di indonesia,
    saya mengamati beberapa vendor besar simrs yang sudah terkenal (exist di rumah2 sakit besar) katanya,

    tapi kenyataaanya aplikasi mereka tidak berjalan baik di rumah-rumah sakit tersebut, aplikasi mereka hanya berjalan di bagian FRONT OFFICE saja. pada waktu implementasi backoffice mereka pada mentok dan banyak yang gagal. alasan mereka (vendor simrs red) pihak rumah sakit tidak koperatif, padahal menurut pengamatan saya pihak rumah sakit sudah cukup koperatif menerjunkan team terbaiknya.

    Saran saya untuk membeli SIMRS TERBAIK, jangan terpaku demo dari vendor-vendor tersebut, carilah aplikasi yang benar benar sudah siap, lakukan test software tersebut sebelum memutuskan untuk membeli

    salam.

Electronic Medical Record (EMR)

An electronic medical record (EMR) is a medical record in digital format.

Definition

The term has sometimes included other (HIT, or Health Information Technology) systems which keep track of medical information, such as the practice management system which supports the electronic medical record.

Issues

As of 2006, adoption of EMRs and other health information technology, such as computer physician order entry (CPOE), has been minimal in the United States, in spite of studies (such as Development of a Module for Point-of-care Charge Capture and Submission Using an Anesthesia Information Management System by David L. Reich, Ronald A. Kahn and David Wax, et al PMID 16810010) showing revenue gains after implementation. Fewer than 10% of American hospitals have implemented health information technology,[2] while a mere 16% of primary care physicians use EHRs.[3] The vast majority of healthcare transactions in the United States still take place on paper, a system that has remained unchanged since the 1950s. The healthcare industry spends only 2% of gross revenues on HIT, which is meager compared to other information intensive industries such as finance, which spend upwards of 10%.[4] The following issues are behind the slow rate of adoption:

Interoperability

In healthcare, interoperability is the ability of different information technology systems and software applications to communicate, to exchange data accurately, effectively, and consistently, and to use the information that has been exchanged. [5]

In the United States, the development of standards for EMR interoperability is at the forefront of the national health care agenda.[3] EMRs, while an important factor in interoperability, are not a critical first step to sharing data between practicing physicians, pharmacies and hospitals. Many physicians currently have computerized practice management systems that can be used in conjunction with health information exchange (HIE), allowing for first steps in sharing share patient information(lab results, public health reporting) which are necessary for timely, patient-centered and portable care. There are currently multiple competing vendors of EHR systems, each selling a software suite that in many cases is not compatible with those of their competitors. Only counting the outpatient vendors, there are more than 25 major brands currently on the market. In 2004, President Bush created the Office of the National Coordinator for Health Information Technology (ONC), originally headed by David Brailer, in order to address interoperability issues and to establish a National Health Information Network (NHIN). Under the ONC, Regional Health Information Organizations (RHIOs) have been established in many states in order to promote the sharing of health information. Congress is currently working on legislation to increase funding to these and similar programs.

The Center for Information Technology Leadership described four different categories (“levels”) of data structuring at which health care data exchange can take place. [6] While it can be achieved at any level, each has different technical requirements and offers different potential for benefits realization.

The four levels are[7]:

Level Data Type Example
1 Non-electronic data Paper, mail, and phone call.
2 Machine transportable data Fax, email, and unindexed documents.
3 Machine organizable data (structured messages, unstructured content) HL7 messages and indexed (labeled) documents, images, and objects.
4 Machine interpretable data (structured messages, standardized content) Automated transfer from an external lab of coded results into a provider’s EHR. Data can be transmitted (or accessed without transmission) by HIT systems without need for further semantic interpretation or translation.

Older record incorporation

To attain the wide accessibility, efficiency, patient safety and cost savings promised by EMR, older paper medical records ideally should be incorporated into the patient's record. The digital scanning >

Privacy

A major concern is adequate confidentiality of the individual records being managed electronically. According to the LA Times, roughly 150 people (from doctors and nurses to technicians and billing clerks) have access to at least part of a patient's records during a hospitalization, and 600,000 payers, providers and other entities that handle providers' billing data have some access.[8] Multiple access points over an open network like the Internet increases possible patient data interception. In the United States, this class of information is referred to as Protected Health Information (PHI) and its management is addressed under the Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA) as well as many local laws.[9] In the European Union (EU), several Directives of the European Parliament and of the Council protect the processing and free movement of personal data, including for purposes of health care.[10] The organizations and individuals charged with the management of this information are required to ensure adequate protection is provided and that access to the information is only by authorized parties. The growth of EHR creates new issues, since electronic data may be physically much more difficult to secure, as lapses in data security are increasingly being reported.[11] Information security practices have been established for computer networks, but technologies like wireless computer networks offer new challenges as well.

Social and organizational barriers

According to the Agency for Healthcare Research and Quality's National Resource Center for Health Information Technology, EMR implementations follow the 80/20 rule; that is, 80% of the work of implementation must be spent on issues of change management, while only 20% is spent on technical issues related to the technology itself. Such organizational and social issues include restructuring workflows, dealing with physicians' resistance to change (or, alternatively, software engineers' evolving research in deep modeling of the physician's knowledge and workflow domains), as well as IT personnels' resistance to design and implementation flexibility needed in the complex healthcare environment, and creating a collaborative environment that fosters communication between physicians and information technology project managers. Exemplifying this need are several highly publicized HIT implementation failures, such as one at Cedars Sinai Medical Center in Los Angeles, in which physicians revolted and forced the administration to scrap a $34 million CPOE system [12] as well as others compiled at a collection of cases of health IT difficulties by medical informatics specialists.[13] There are, however, several successful examples of EMR implementations in large hospitals, usually hospital systems that have had years of experience developing custom EMRs, for example the Veterans Administration hospital system, Kaiser Permanente's HealthConnect and the VistA EMR.

Technology limitations

Limitations in software, hardware and networking technologies has made EMR difficult to affordably implement in small, budget conscious, multiple location healthcare organizations. Until recently most EMR systems were developed using older programming languages such as Visual Basic and C++; however with many systems now being developed using Microsoft .NET Framework and Java technology EMRs can be securely implemented across multiple locations with greater performance and interoperability.[14] Prior to the recent introduction of IEEE 802.11 g and n wireless technology access to large files such as MRI and X-Ray images was slow. With these new wireless technologies data can be securely transferred at speeds of up to 108 Mbit/s, across extended distances and in older buildings built with brick or concrete walls. Tablet PC technology has significantly improved over the recent years, Li-Ion/polymer batteries for battery life of up to 8 hours, biometric security, low-voltage processors and lighter weight solutions. For the new generation of Tablet PC, there are now EMRs that are fully handwriting capable[15]

Preservation

Under data protection legislation and the law generally responsibility for patient records (irrespective of the form they are kept in) is always on the creator and custodian of the record, usually a health care practice or facility. The physical medical records are the property of the medical provider (or facility) that prepares them. This includes films and tracings from diagnostic imaging procedures such as X-ray, CT, PET, MRI, ultrasound, etc. The patient, however, according to HIPAA, owns the information contained within the record and has a right to view the originals, and to obtain copies under law.[16] Additionally, those responsible for the management of the EMR are responsible to see the hardware, software and media used to manage the information remain usable and not degraded. This requires backup of the data and protection being provided to copies. It will also require the planned periodic migration of information to address concerns of media degradation from use.[17]

Legal status

Medical records, such as physician orders, exam and test reports are legal documents, which must be kept in unaltered form and authenticated by the creator.

  • Digital signatures Most national and international standards accept electronic signatures.[18] According to the American Bar Association, "A signature authenticates a writing by identifying the signer with the signed document. When the signer makes a mark in a distinctive manner, the writing becomes attributable to the signer."[19] With proper security software, electronic authentication is more difficult to falsify than the handwritten doctor's signature. However, as the recent rise in identity theft demonstrates, no security method can totally prevent fraud, so auditing information security will continue to be prudent when using EMR.
  • Digital records such as EHR create difficulties ensuring that the content, context and structure are preserved when the records do not have a physical existence. As of 2006, national and state archives authorities are still developing open, non-proprietary technical standards for electronic records management (ERM).[20]
source : wikipedia.org